75% Anak Idiot karena Usia Ibu
PERNAHKAH Anda memperhatikan seseorang dengan ciri mata sipit, ''jembatan'' hidung datar dan lebar, dan lidah besar dengan mulut kecil cenderung terbuka? Dalam ilmu kedokteran, orang dengan ciri-ciri itu sering disebut mongolism (seperti orang Mongol), sedangkan yang lain menyebut idiot.
''Namun istilah mongolism tidak bisa dipakai lagi setelah pemerintah Mongolia menyatakan keberatan,'' kata Prof dr Sultana MH Faradz PhD yang Kamis (10/6) lalu dikukuhkan sebagai guru besar ke-25 Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip).
''Sekarang orang yang memiliki ciri-ciri itu disebut syndrom down. Istilah itu diambil dari nama penemunya,'' terang Sultana yang lahir di Purbalingga, 52 tahun lalu.
Menurut dia, kondisi itu lebih sering karena ketika melahirkan, usia ibu sudah lebih dari 35 tahun. ''Hanya 5% kasus ini bukan karena usia ibu,'' kata Ketua Unit Molekuler dan Sitogenetika Laboratorium Bioteknologi Kedokteran FK Undip tersebut.
Dia juga mengatakan, masyarakat sering menganggap syndrom down sama dengan idiot. Padahal, hal itu merupakan penyakit genetik yang disebabkan oleh retardasi mental. ''Bukan penyakit keturunan,'' tandasnya.
Menurut Sultana, diagnosis melalui analisis kromosom menunjukkan, penderita idiot mempunyai kelebihan satu kromosom 21, sehingga identifikasi retardasi mental tidak bisa hanya didasarkan pada IQ. ''Karakteristik retardasi mental di sini adalah fungsi intelektual di bawah rata-rata, yaitu 70-75, disertai beberapa keterbatasan keterampilan penyesuaian seperti komunikasi, merawat diri, dan kecakapan akademik,'' jelasnya.
Dalam rapat senat terbuka di Auditorium Undip Pleburan, dr Sulatana menyampaikan pidato ilmiah ''Retardasi Mental, Pendekatan Seluler dan Molekuler'' yang merupakan hasil penelitian terhadap anak-anak yang mengidap retardasi mental dengan pemeriksaan kromosom dan DNA.
Hasil penelitiannya menunjukkan, selain syndrom down, kondisi anak juga bisa disebabkan oleh sindrom Fragile X. ''Ini merupakan kasus retardasi mental genetik yang diwariskan. Ciri utamanya adalah kerapuhan pada ujung lengan panjang kromosom X,'' ujarnya.
Menurut dia, gejala klinik penyakit sindrom Fragile X adalah pembesaran buah testis, telinga besar dan menggantung, serta wajah yang panjang. ''Penyakit retardasi mental tidak bisa diobati karena berkaitan dengan genetik. Namun, penderita bisa ditangani,'' tambahnya. (wid-89k)
sumber Suara merdeka
05.50 | 0 Comments
EARLY INFANTILE AUTISM
Seorang anak berlari-lari dengan riangnya kesana kemari. Dengan wajah ceria ia bolak-balik mematikan kenop lampu yang ada di ruangan rumahnya. Teriakan dan larangan ibunya sama sekali tidak dihiraukannya, seakan-akan ia tidak mendengar suara panik sang ibu yang takut terjadi sesuatu pada anaknya. Beberapa menit kemudian ketika “jingle” sebuah iklan muncul di TV, tiba-tiba ia menghentikan kegiatannya dan berlari kearah TV serta mendengarkan dengan seksama “jingle iklan“ tersebut. Sesaat iklan tersebut berakhir, ia kembali berlari-lari dengan tangan yang berkali-kali dihentakkan ke bawah disertai kata-kata atau suara yang hanya ia sendiri dapat mengerti.”
Gejala-gejala seperti ilustrasi diatas belakangan banyak terjadi pada anak usia 2-4 tahun. Autis adalah salah satu dari kesekian gangguan perkembangan yang prevalensinya semakin meningkat belakangan ini. dari 1 : 5000 anak pada tahun 1943 saat Leo Kanner memperkenalkan istilah autisme menjadi 1 : 100 ditahun 2001 (Nakita, 2002).
PENGERTIAN AUTISME
Autisme berasal dari kata “autos” yang berarti segala sesuatu yang mengarah pada diri sendiri. Dalam kamus psikologi umum (1982), autisme berarti preokupasi terhadap pikiran dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih banyak berorientasi kepada pikiran subyektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau realita kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu penderita autisme sering disebut orang yang hidup di “alamnya” sendiri. Dulu anak-anak yang mengalami gangguan ini telah dideskripsikan dalam berbagai istilah seperti chilhood schizophrenia (Bleuer), Margareth Mahler (1952) menyebutnya dengan symbiotic psychotic children dengan gejala-gejala tidak dapat mengembangkan self-object differentiation. Belakangan istilah psikosis cenderung dihilangkan dan dalam Diagnostic and Statistical Maunal of Mental Disorder edisi IV (DSM-IV) Autisme digolongkan sebagai gangguan perkembangan pervasif (pervasive developmental dis-orders), secara khas gangguan yang termasuk dalam kategori ini ditandai dengan distorsi perkembangan fungsi psikologis dasar majemuk yang meliputi perkembangan keterampilan sosial dan bahasa, seperti perhatian, persepsi, daya nilai terhadap realitas, dan gerakan-gerakan motorik.
Autisme atau autisme infantil (Early Infantile Autism) pertama kali dikemukakan oleh Dr. Leo Kanner 1943 seorang psikiatris Amerika. Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala psikosis pada anak-anak yang unik dan menonjol yang sering disebut Sindrom Kanner (untuk membedakan dengan sidrom Asperger atau autis Asperger). Ciri yang menonjol pada sindrom Kanner antara lain ekspresi wajah yang kosong seolah-olah sedang melamun, kehilangan pikiran dan sulit sekali bagi orang lain untuk menarik perhatian mereka atau mengajak mereka berkomunikasi.
GEJALA-GEJALA YANG NAMPAK
Gejala autisme infantil timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada sebagian anak gejala gangguan perkembangan ini sudah terlihat sejak lahir. Chris Williams dan Barry Wright (2007) mengemukakan beberapa simptom autistik yang mungkin sudah muncul diusia 18 bulan, seperti: tidak melakukan kontak mata, tidak merespon segera jika dipanggil nama, tampak berada “didunianya sendiri”, mengalami hambatan perkembangan bahasanya, kehilangan kemampuan berbahasa, tidak menggunakan bahasa tubuh, tidak memahami sikap tubuh orang lain, tidak bermain pura-pura, lebih tertarik pada bagian-bagian permainan, gerakan-gerakan tidak umum (ex. Jalan jinjit). Mengingat di Indonesia belum ada suatu alat tes yang baku untuk mengetahui gangguan pada anak, maka untuk tujuan tersebut dapat dilakukan dengan membandingkan perkembangan anak dengan indikator perkembangan yang normal.
TAHAP PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS
Fiksasi pandangan : Lahir
Mengikuti benda melalui garis tengah : 2 bulan
Mengetahui adanya benda kecil : 5 bulan
MOTORIK HALUS
Telapak tangan terbuka : 3 bulan
Menyatukan kedua tangan : 4 bulan
Memindahkan benda antara kedua tangan : bulan
Meraih unilateral : 6 bulan
Pincer grasp imatur : 9 bulan
Pincer grasp matur dengan jari : 11 bulan
Melepaskan benda dengan sengaja : 12 bulan
PEMECAHAN MASALAH
Memeriksa benda : 7 – 8 bulan
Melemparkan benda : 9 bulan
Membuka penutup mainan : 10 bulan
Meletakkan kubus dibawah gelas : 11 bulan
MENGGAMBAR
Mencoret : 12 bulan
Meniru membuat garis : 15 bulan
Membuat garis spontan : 18 bulan
Membuat garis horizontal & vertikal : 25 -27 bulan
Meniru membuat lingkaran : 30 bulan
Membuat lingkaran spontan tanpa
Melihat contoh : 3 tahun
MELAKSANAKAN TUGAS
Memasukkan biji kedalam botol : 12 bulan
Melepaskan biji dengan meniru : 14 bulan
Melepaskan biji spontan : 16 bulan
MENYUSUN KUBUS
Menyusun 2 kubus : 15 bulan
Menyusun 3 kubus : 16 bulan
Kereta api dengan 4 kubus : 2 bulan
Kereta api dengan cerobong asap : 2. Tahun
Jembatan 3 kubus : 3 tahun
Pintu gerbang dari 5 kubus : 4 tahun
Tangga dan dinding dari beberapa kubus
Tanpa melihat contoh : 6 tahun
MAKAN
Makan biskuit yang dipegang : 9 bulan
Minum dari gelas sendiri/menggunakan sendok : 12 bulan
BERPAKAIAN
Membuka baju sendiri : 24 Bulan
Memakai baju : 36 bulan
Membuka kancing : 36 bulan
Memasang kancing : 48 bulan
Mengikat tali sepatu : 60 bulan
TAHAP PERKEMBANGAN BAHASA
Bereaksi terhadap suara : Lahir
Tersenyum social : 5 minggu
Orientasi terhadap suara : 4 bulan
Mengerti perintah tidak boleh : 8 bulan
Mengerti perintah tanpa mimic : 14 bulan
Menunjuk 5 bagian tubuh yang disebutkan : 8 bulan
Menoleh kepada suara bel : Fase 1, 5 bln
Fase 2, 7 bln
Fase 3, 9 bln
Mengerti perintah ditambah mimic : 11 bulan
EKSPRESIF
Ooo-ooo : 6 minggu
Guu, guuu : 3 bulan
a-guuu, a-guuu : 4 bulan
Mengoceh : 4-6 bulan
Dadadada (menggumam) : 6 bulan
Da-da tanpa arti, Ma-ma tanpa arti : 8 bulan
Dada : 10 bulan
Mama & kata pertama selain mama : 11 bulanKata kedua : 12 bulanKata ketiga : 13 bulan
4 – 6 kata : 15 bulan
7 – 20 kata : 17 bulan
Kalimat pendek 2 kata : 21 bulan
50 kata & kalimat terdiri dari 3 kata : 3 tahun
Kalimat terdiri dari 4 -5 kata, bercerita,
menanyakan arti suatu kata,
menghitung sampai 20 : 4 tahun
Secara umum ada beberapa gejala autisme yang akan tampak semakin jelas saat anak telah mencapai usia 3 tahun, yaitu:
Gangguan dalam komunikasi verbal maupun non verbal seperti terlambat bicara, mengeluarkan kata-kata dalam bahasanya sendiri yang tidak dapat dimengerti, echolalia, sering meniru dan mengulang kata tanpa dimengerti maknanya, dstnya.
Gangguan dalam bidang interaksi sosial, seperti menghindar kontak mata,
tidak melihat jika dipanggil, menolak untuk dipeluk, lebih suka bermain sendiri, dstnya.
Gangguan pada bidang perilaku yang terlihat dari adanya perlaku yang berlebih (excessive) dan kekurangan (deficient) seperti impulsif, hiperaktif, repetitif namun dilain waktu terkesan pandangan mata kosong, melakukan permainan yang sama dan monoton .Kadang-kadang ada kelekatan pada benda tertentu seperti gambar, karet, dll yang dibawanya kemana-mana.
Gangguan pada bidang perasaan atau emosi, seperti kurangnya empati, simpati, dan toleransi; kadang-kadang tertawa dan marah sendiri tanpa sebab yang nyata dan sering mengamuk tanpa kendali bila tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.
Gangguan dalam persepsi sensoris seperti mencium-cium dan menggigit mainan atau benda, bila mendengar suara tertentu langsung menutup telinga, tidak menyukai rabaan dan pelukan, dsbnya.
Gejala-gejala tersebut di atas tidak harus ada semuanya pada setiap anak autisme, tergantung dari berat-ringannya gangguan yang diderita anak.
KRITERIA DIAGNOSTIK
Autistik (Autistic Disorder) berbeda dengan gangguan Rett (Rett’s Disorder), gangguan disintegatif masa anak (Childhood Disintegrative Disorder) dan gangguan Asperger (Asperger’s Disorder).
Secara detail, menurut DSM IV, kriteria gangguan autistik adalah sebagai berikut:
A. Harus ada total 6 gejala dari (1), (2) dan (3), dengan minimal 2 gejala dari (1) dan masing-masing 1 gejala dari ( 2 ) dan (3) :
1. Kelemahan kwalitatif dalam interaksi sosial, yang termanifestasi dalamsedikitnya 2 dari beberapa gejala berikut ini:
Kelemahan dalam penggunaan perilaku nonverbal, seperti kontak mata, ekspresi wajah, sikap tubuh, gerak tangan dalam interaksi sosial.
Kegagalan dalam mengembangkan hubungan dengan teman sebaya sesuai dengan tingkat perkembangannya.
Kurangnya kemampuan untuk berbagi perasaan dan empati dengan orang lain.
Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik.
2. Kelemahan kualitatif dalam bidang komunikasi. Minimal harus ada 1 dari gejala berikut ini:
Perkembangan bahasa lisan (bicara) terlambat atau sama sekali tidak berkembang dan anak tidak mencari jalan untuk berkomunikasi secara non verbal.
Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak digunakan untuk berkomunikasi
Sering menggunakan bahasa yang aneh, stereotype dan berulangulang.
Kurang mampu bermain imajinatif (make believe play) atau permainan imitasi sosial lainnya sesuai dengan taraf perkembangannya.
3. Pola perilaku serta minat dan kegiatan yang terbatas, berulang. Minimal harus ada 1dari gejala berikut ini:
Preokupasi terhadap satu atau lebih kegiatan dengan fokus dan intensitas yang abnormal atau berlebihan.
Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik atau rutinitas
Gerakan-gerakan fisik yang aneh dan berulang-ulang seperti menggerak-gerakkan tangan, bertepuk tangan, menggerakkan tubuh.
Sikap tertarik yang sangat kuat atau preokupasi dengan bagian-bagian tertentu dari obyek.
B. Keterlambatan atau abnormalitas muncul sebelum usia 3 tahun minimal pada salah satu bidang (1) interaksi sosial, (2) kemampuan bahasa dan komunikasi, (3) cara bermain simbolik dan imajinatif.
C. Bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan Disintegratif Masa Anak.
PENYEBAB AUTISME
Sampai dengan saat ini belum ada ketentuan yang pasti tentang penyebab gangguan autism ini, ada beberapa anggapan sebagai berikut:
Teori Psikoanalitik (efrigerator mother).
Autism disebabkan pengasuhan ibu yang tidak hangat (Bruno Bettelheim).
Teori berpandangn kognitif (Theory of Mind)
Autis disebabkan ketidak mampuan membaca pikirn orang lain “mindblindness” (Baron-Ohen, Alan Leslie).
Autisme sebagai gejala neurologis.
Teori Biologi
Autis disebabkan oleh Faktor genetik
Teori Imunologi
Autis disebabkan oleh infeksi virus.
BEBERAPA GANGGUAN YANG MENYERTAI AUTIS
Gangguan tidur dan makan.
Gangguan afek dan mood.
Perilaku yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Gangguan kejang (10 – 25 %).
Kondisi fisik yang khas (anak autis 2 -7 tahun lebih pendek dibanding anak seusianya).
PENGGOLONGAN AUTISM
Autism (autisme masa anak-anak).
Autisme atipikal atau pervasive develompmental disorder-not Otherwise Specified
High Functioning Autism
Low Functioning Autism
PENANGANAN
Autisme adalah gangguan yang tidak bisa disembuhkan (not curable), namun bisa diterapi (treatable). Maksudnya kelainan yang terjadi pada otak tidak bisa diperbaiki namun gejala-gejala yang ada dapat dikurangi semaksimal mungkin sehingga anak tersebut nantinya bisa berbaur dengan anakanak lain secara normal. (Wenar, 1994)
Keberhasilan terapi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
Berat ringannya gejala atau berat ringannya kelainan otak.
Usia, diagnosis dini sangat penting oleh karena semakin muda umur anak saat dimulainya terapi semakin besar kemungkinan untuk berhasil.
Kecerdasan, makin cerdas anak tersebut makin baik prognosisnya
Bicara dan bahasa, 20 % penyandang autis tidak mampu berbicara seumur
Hidup, sedangkan sisanya mempunyai kemampuan bicara dengan kefasihan yang berbeda-beda. Mereka dengan kemampuan bicara yang baik mempunyai
Prognosis yang lebih baik.
Terapi yang intensif dan terpadu.
TERAPI YANG TERPADU
Penanganan atau intervensi terapi pada penyandang autisme harus dilakukan dengan intensif dan terpadu. Terapi secara formal sebaiknya dilakukan antara 4-8 jam sehari. Selain itu seluruh keluarga harus terlibat untuk memacu komunikasidengan anak. Penanganan penyandang autisme memerlukan kerjasama tim yangterpadu yang berasal dari berbagai disiplin ilmu antara lain psikiater, psikologneurolog, dokter anak, terapis bicara dan pendidik. Beberapa terapi yang harus dijalankan antara lain:
Terapi medikamentosa
Terapi psikologis
Terapi wicara
Fisioterapi
PUSTAKA ACUAN
Safira Triantoro. 2005. Autisme: Pemahaman Baru Untuk Hidup Bermakna Bagi Orang Tua, Jakarta:Garaha Ilmu.
Attwood Tony. 2005. Sindrom Asperger. Jakarta:Serambi.
William Chris & Barry Wright. 2004. How to Live With Autism and Asperger Syndrome. Jakarta:Dian Rakyat.
Hadis Abdul. 2006. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Autistik. Bandung:Alfabeta.
Maulana Mirza. 2007. Anak Autis. Yogyakarta:Kata Hati.
Yayasan Autisma Indonesia. 1998. Pelatihan Tata Laksana Perilaku Pada Penyandang Autisme Masa Kanak. Jakarta.
Simposium Sehari. 1997. Gangguan Perkembangan Pada Anak. Jakarta:Yayasan Autisma Indonesia.
Kaplan Harold & Sadock. 1997. Sinopsis Psikiatri jilid-2. Jakarta: Binarupa Aksara.
Budiman Melly. 1998. Makalah Simposium. Pentingnya Diagnosis Dini dan Penatalaksanaan Terpadu pada Autisme. Surabaya.
Gulo Dali. 1982. Kamus Psikologi. Bandung:Tonis.
Yusuf Elvi Andriani. 2007. Materi Perkuliahan Fakultas Psikologi. Autisme Masa Kanak. Sumatera.
Tracy Vail dan Denise Freeman. 2006. Makalah. Verbal Behaviour Training Manual. The Mariposa School for Autistic Children, North Carolina.
Ginanjar Adriana S. 2007. Disertasi. Memahami Spektrum Autistik Secara Holistik. Jakarta:Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
http://h2dy.wordpress.com
07.40 | 0 Comments
Lumba-lumba,Terapi Alternatif Anak Autis
Oleh
Ruth Hesti Utami
Jakarta – Siapa yang tidak senang melihat lumba-lumba? Mamalia laut itu dikenal sebagai salah satu satwa paling ramah dan paling cerdas. Ternyata, lumba-lumba tidak hanya sekadar tontonan yang lucu. Gelombang sonar yang dikeluarkan lumba-lumba saat bersuara, juga berpengaruh positif bagi kesembuhan anak-anak penderita autis.
Di negara lain, terapi alternatif bagi anak autis menggunakan lumba-lumba sebenarnya sudah lama dimulai. Adalah David Nathanson yang mulai mengembangkan terapi itu di Ocean World, Fort Lauderdale, Florida, Amerika Serikat. Pada awalnya, ia hanya menangani anak yang mengalami down syndrome atau keterbelakangan mental. Anak-anak penderita down syndrome diketahui sulit untuk memberi perhatian pada suatu hal. David lalu menstimulasi panca indra anak-anak ini, dengan mengajak mereka berinteraksi dengan lumba-lumba. Mulanya, mereka tidak langsung berenang dengan lumba-lumba, tapi hanya bermain-main di sekitarnya.
Ternyata, anak-anak down syndrome itu bisa menerima stimulasi dan mulai bisa memberi perhatian. Cerita sukses terapi lumba-lumba mencapai puncaknya pada Maret 1998.
Ketika itu seorang bocah Inggris penderita bisu-tuli, Nikki Brice, berhasil mengucapkan kata pertamanya, yaitu ”in” sambil tangannya menunjuk ke arah kolam. Padahal, bocah malang itu sudah menderita bisu dan tuli sejak bayi.
Selama terapi, Nikki yang berusia delapan tahun bergaul dan berenang dengan lumba-lumba. Terapi itu berlangsung secara intensif selama tiga minggu (masing-masing pertemuan 40 menit). Sejak itu, terapi lumba-lumba terus dipraktikkan dan dikembangkan. Tidak hanya untuk anak autis tapi juga untuk orang dewasa yang mengalami gangguan mental dan sensor saraf indera. Karena padatnya daftar tunggu para pasien, sampai-sampai David harus memindahkan ”tempat praktiknya” ke Dolphin Plus di Key Largo, Florida.
Di Indonesia, tepatnya di Jakarta, terapi lumba-lumba mulai dilakukan di Gelanggang Samudera, Ancol, sejak Maret 2005. Mengacu pada hasil penelitian David, dalam terapi yang berlangsung 30-40 menit itu, anak didorong berinteraksi dengan lumba-lumba dan terapis yang mendampinginya.
“Lumba-lumba dikenal bisa mengeluarkan suara yang mengandung gelombang sonar, yang bisa mempengaruhi kognisi anak. Suara itu menimbulkan rileksasi, dan juga merangsang anak untuk mempercepat proses belajar,” ujar General Manager Dolphin Terapi Klinik, Endang Sumaryati ketika ditemui SH, Rabu (7/9).
Terapi itu diberikan secara bertahap. Sepekan hingga 10 hari pertama, anak biasanya hanya diminta bermain-main di sekitar kolam, untuk membiasakan diri dengan situasi sekitarnya. Pada mulanya, anak biasanya juga takut menyentuh lumba-lumba. Karena itu, biasanya ia hanya diminta menyaksikan berbagai atraksi yang dilakukan si lumba-lumba sampai ia merasa aman berdekatan dengan lumba-lumba itu, dan menyukainya. Setelah itu, barulah anak menjalani terapi di dalam air, didampingi seorang terapis dan pawang lumba-lumba.
Terapi di dalam air, terdiri dari latihan untuk berkomunikasi, menunjukkan empati, dan berkonsentrasi pada suatu aktifitas. Caranya, si terapis meminta anak melakukan suatu aktifitas, sampai si anak akhirnya bisa memenuhi perintah itu. “Ayo Ari, pegang lumba-lumbanya. Yang kencang, jangan dilepas ya. Tapi lumba-lumbanya jangan ditendang,” ujar Merry, salah seorang terapis pada Ari (6), anak yang sedang didampinginya, Rabu (7/9).
Mulanya, Ari tidak mau memenuhi perintah itu, karena perhatiannya terus teralih pada hal-hal lain. Tetapi setelah perintah yang sama diberikan berulang-ulang, Ari akhirnya bisa melakukannya dengan cukup baik. Selama beberapa saat ia berhasil memusatkan perhatian untuk memegang sirip dan punggung lumba-lumba hidung botol yang menemaninya, sebelum perhatiannya kemudian teralih pada hal baru. Latihan konsentrasi dan memenuhi perintah terapis seperti itu, menurut Endang, merupakan latihan yang sangat diperlukan anak autis.
Selama ini, anak autis seringkali mengalami kesulitan berkomunikasi dan memusatkan konsentrasinya pada suatu hal. Karena itu di dalam terapi, anak didorong untuk mendengar perintah terapisnya. Ha-silnya ternyata positif. Setelah mengikuti terapi selama kurang lebih tiga bulan, Ari menjadi lebih mudah berkomunikasi.
“Dulu dia kalau dipanggil nggak pernah bereaksi, diam saja. Terus aktif sekali, nggak bisa diam. Sekarang udah bisa komunikasi sedikit-sedikit, dan lebih tenang. Dia bahkan sudah bisa bersekolah di SD umum,” ujar pengasuh Ari. n
21.42 | 0 Comments
Anak autis adalah Pengumpul data
Ditulis oleh Julia Maria Van Tiel
Sumber : lita.inirumahku.com
dipublikasikan untuk kepentingan ilmiah
ANAK AUTISME ADALAH PENGUMPUL DATA
Ceramah sepanjang dua hari yang diberikan oleh Prof Buitelaar itu juga menyinggung bagaimana seorang anak autisme dalam mengembangkan inteligensianya. Inteligensia anak-anak kelompok autisme sebetulnya cukup beragam, mulai dari yang mental retarded hingga yang mempunyai inteligensia tinggi. Namun yang menarik disini adalah sekalipun anak itu merupakan anak autisme dengan IQ yang tidak tinggi sekalipun, ada yang mampu mengumpulkan informasi atau data sangat luar biasa. Misalnya ia mampu menyebutkan nama-nama burung hingga ratusan. Ia mampu membedakan dan menyebutkan setiap nama burung itu. Namun tidak lebih dari itu saja.
Pada anak autisme yang mempunyai inteligensia tinggi, biasa disebut sebagai Asperger. Kelompok ini adalah kelompok autisme yang mempunyai perkembangan fungsi yang tinggi yang kemudian disebut High Function. Nama Asperger sendiri diambil dari nama seorang dokter anak Hans Asperger dari Austria, adalah yang pertama kali mengemukakan kasus autisme ini. Kelompok ini memang mempunyai gangguan berbahasa, tetapi tidak mengalami gangguan perkembangan bicara. Perkembangan bicaranya sesuai dengan jadwal, atau dengan kata lain tidak mengalami keterlambatan bicara. Sekalipun tidak terlambat bicara, berbahasanya sangat kaku.
Anak-anak Asperger ini saat kecilnya sering disangka anak berbakat (gifted children), namun ternyata apa yang dikuasai lebih menjurus pada kemampuan meregistrasi atau pengumpul data, sehingga tidak bisa dikelompokkan sebagai anak berbakat. Kelompok Asperger ini seringkali justru sangat terlambat terdeteksi, karena selain ia mempunyai inteligensia yang baik, juga tidak mengalami keterlambatan bicara. Inteligensianya sering menutupi kekurangannya. Buitelaar mengakui cukup sulit membedakan anak-anak berbakat (gifted children) yang mempunyai inteligensia sangat tinggi namun mengalami gangguan bersosialisasi sebagaimana halnya dengan kelompok Asperger.
Gangguan bersosialisasi pada anak-anak berbakat (gifted children) menurut Buitelaar lagi, lebih banyak disebabkan karena bahasa yang dikuasai anak-anak berbakat sangat berbeda dengan anak-anak lainnya, atau teman sepermainannya. Seringkali anak-anak normal, teman sepermainannya tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh anak-anak berbakat (gifted) ini. Sekalipun antara anak berbakat (gifted children) dan kelompok Asperger mempunyai kesamaan berkemampuan mengumpulkan pengetahuan yang luar biasa, namun tetap Asperger sebagai kelompok autisme, adalah individu yang mengalami kegagalan dalam melihat konteks dan hubungan antar data dalam pengetahuan tersebut.
Ia memberikan contoh, andaikan ada dua anak yang satu adalah Asperger dan yang satu adalah anak berbakat (gifted child), mereka mempunyai minatan yang sama pada misalnya berbagai macam dinosaurus. Anak autisme hanya akan mengumpulkan data tentang berbagai macam dinosaurus, tentang kehidupannya, namun tak mampu menganalisa hubungan dinosaurus dengan kehidupan ini di mana justru kemampuan ini dimiliki oleh anak-anak berbakat (gifted child).
Anak autisme juga hanya mempunyai bidang minatan yang sangat sempit, berbeda dengan anak-anak normal, ataupun anak-anak berbakat (gifted) di mana bisa mempunyai bidang minatan yang luas. Buitelaar mencotohkan pada pasiennya yang setiap datang hanya menceritakan tentang mesin cucinya.
Perkembangan fantasi dan imajinasi anak-anak autisme juga sangat kurang. Sehingga andaikan anak ini diajak bermain fantasi ia tidak
akan bisa. Ia hanya mampu melakukan suatu kegiatan yang tidak menggunakan fantasi dan imajinasinya. Andaikan ia memperhatikan satu benda, misalnya sebuah mobil-mobilan ia hanya akan memperhatikan satu bagian saja, dan tak bisa memainkan mobilan itu sebagaimana anak- anak lainnya.
Dalam kesempatan seminar kali ini juga dipamerkan puluhan lukisan hasil karya Osi, seorang penyandang autisme berusia 18 tahun, putra dari pasangan Ir Buggi Rustamadji, MSc yang juga direktur sekolah lanjutan atas Fredofios, dan Ibu Soedarjati MA. Osi mampu menggambar dengan sangat baik, dengan warna-warna yang memikat, dan sangat realis. Temanya adalah apa yang dilihat dan dialaminya sehari-hari. Misalnya keramaian di kota, tempat menjemur baju, di restorant, saudara-saudaranya, ayah dan ibunya.
Teman Osi, Opik, adalah sesama penyandang autisme juga memamerkan karya-karya, tak kalah dengan karya Osi yang puluhan banyaknya. Namun yang menarik dari kedua pelukis penyandang autisme ini adalah, karya lukisannya bagai sebuah suatu laporan pandangan mata yang detil, sangat perfek, dan tanpa dibumbui oleh suatu unsur imajinasi. Di sinilah kekhususan dari perkembangan kognitif penyandang autisme. Sekalipun di dalam gambar- gambarnya itu juga berdiri gambar manusia, namun manusia-manusia yang digambarkan itu adalah detil yang melengkapi apa yang dilaporkan. Bukan sebuah karya imajinasi yang menjelaskan banyak arti. Akan berbeda misalnya dengan karya gambar seorang anak berbakat, di mana karya-karya penuh dengan fantasi dan imajinasi, bahkan seringkali tidak realis sama sekali.
Penutupan ceramah kali ini ditutup dengan pesan-pesan supaya kita mampu melihat gejala autisme dengan lebih baik dan kita mampu menentukan penanganan yang lebih tepat. Namun yang terpenting adalah kita harus berhati-hati dalam mencari sumber bacaan, karena saat ini sumber bacaan yang banyak dipublikasi justru datangnya dari kelompok-kelompok yang tidak bisa dipertanggung jawabkan keilmiahannya.
http://officesoft.wordpress.com
21.02 | 0 Comments
10 macam terapi anak autis
Sumber : www.slbpembina-riau.com
Akhir2 ini bermunculan berbagai cara / obat/ suplemen yang ditawarkan dengan iming2 bisa menyembuhkan autisme. Kadang2 secara gencar dipromosikan oleh si penjual, ada pula cara2 mengiklankan diri di televisi/radio/tulisan2.
Para orang tua harus hati-hati dan jangan sembarangan membiarkan anaknya sebagai kelinci percobaan. Sayangnya masih banyak yang terkecoh , dan setelah mengeluarkan banyak uang menjadi kecewa oleh karena hasil yang diharapkan tidak tercapai.
Dibawah ini ada 10 jenis terapi yang benar2 diakui oleh para professional dan memang bagus untuk autisme. Namun, jangan lupa bahwa Gangguan Spectrum Autisme adalah suatu gangguan proses perkembangan, sehingga terapi jenis apapun yang dilakukan akan memerlukan waktu yang lama. Kecuali itu, terapi harus dilakukan secara terpadu dan setiap anak membutuhkan jenis terapi yang berbeda.
1) Applied Behavioral Analysis (ABA)
ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai , telah dilakukan penelitian dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bias diukur kemajuannya . Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia.
2) Terapi Wicara
Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang.
Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang , namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain.
Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong.
3) Terapi Okupasi
Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot2 halusnya dengan benar.
4) Terapi Fisik
Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya.
Kadang2 tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot2nya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya.
5) Terapi Sosial
Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi . Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam ketrampilan berkomunikasi 2 arah, membuat teman dan main bersama ditempat bermain. Seorang terqapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan mengajari cara2nya.
6) Terapi Bermain
Meskipun terdengarnya aneh, seorang anak autistik membutuhkan pertolongan dalam belajar bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi social. Seorang terapis bermain bisa membantu anak dalam hal ini dengan teknik-teknik tertentu.
7) Terapi Perilaku.
Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak memahami mereka, mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya, Mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya,
Terapi Perkembangan
Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan Intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih spesifik.
9) Terapi Visual
Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambar-gambar, misalnya dengan metode …………. Dan PECS ( Picture Exchange Communication System). Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan komunikasi.
10) Terapi Biomedik
Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN! (Defeat Autism Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik. Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anak-anak ini diperiksa secara intensif, pemeriksaan, darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan. Terrnyata lebih banyak anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (biomedis).
20.30 | 0 Comments
Terapi gelombang untuk anak autis
Terapi Gelombang Otak Untuk Anak Autis
Orang tua dari seorang anak yang menderita autis umumnya rela membayar berapapun asalkan anaknya bisa disembuhkan. Namun seringkali sangat sulit untuk menemukan terapi yang tepat untuk menyembuhkan atau paling tidak meringankan beban orang tua dan anak penderita autis.
Autisme masih menjadi misteri yang belum terpecahkan sepenuhnya oleh kedokteran. Para pakar belum sepakat soal penyebab penyakit ini. Namun, sebagian pakar setuju bahwa sindrom autis terjadi karena kelainan pada otak.
Hingga kini, bisa tidaknya autis autis disembuhkan (total) juga masih menjadi pertentangan dalam dunia kedokteran dan psikologi. Namun, orang tua hendaknya harus mencoba berbagai terapi. Setidaknya dengan terapi keadaan si anak lebih baik.
Saat ini, ada berbagai terapi autis, baik yang diakui oleh dunia medis maupun yang masih bedasarkan disiplin ilmu tradisional. Macam-macam terapi autis diantaranya:
Terapi akupunktur. Metode tusuk jarum ini diharapkan bisa menstimulasi sistem saraf pada otak hingga dapat bekerja kembali.
Terapi musik. Lewat terapi ini, musik diharapkan memberikan getaran gelombang yang akan berpengaruh terhadap permukaan membran otak. Secara tak langsung, itu akan turut memperbaiki kondisi fisiologis. Harapannya, fungsi indera pendengaran menjadi hidup sekaligus merangsang kemampuan berbicara.
Terapi balur. Banyak yang yakin autisme disebabkan oleh tingginya zat merkuri pada tubuh penderita. Nah, terapi balur ini bertujuan mengurangi kadar merkuri dalam tubuh penyandang autis. Caranya, menggunakan cuka aren campur bawang yang dilulurkan lewat kulit. Tujuannya melakukan detoksifikasi gas merkuri.
Terapi perilaku. Tujuannya, agar sang anak memfokuskan perhatian dan bersosialisasi dengan lingkungannya. Caranya dengan membuat si anak melakukan berbagai kegiatan seperti mengambil benda yang ada di sekitarnya.
Terapi anggota keluarga. Orangtua harus mendampingi dan memberi perhatian penuh pada sang anak hingga terbentuk ikatan emosional yang kuat. Umumnya, terapi ini merupakan terapi pendukung yang wajib dilakukan untuk semua jenis terapi lain
Dan terakhir, adalah terapi lumba-lumba. Telah diketahui oleh dunia medis bahwa di tubuh lumba-lumba teerkandung potensi yang bisa menyelaraskan kerja saraf motorik dan sensorik pendeerita autis. Sebab lumba-lumba mempunyai gelomba sonar (gelombang suara dengan frewkuensi tertentu) yang dapat merangsang otak manusia untuk memproduksi energi yang ada dalam tulang tengkorak, dada, dan tulang belakang pasien sehingga dapat membentuk keseimbangan antara otak kanan dan kiri. Selain itu, gelombang suara dari lumba-lumba juga dapat meningkatkan neurotransmitter.
Terapi anak autis dengan lumba-lumba sudah terbukti 4 kali lebih efektif dan lebih cepat dibanding terpi lainnya. Gelombang suara yang dipancarkan lumba-lumba ternyata berpengaruh pada perkembangan otak anak autis.
Menurut pihak yang menjual CD Terapi Anak Autis ini kepada saya, bedasarkan keberhasilan terapi gelombang lumba-lumba, maka CD Terapi Anak Autis ini diciptakan. Gelombang suara yang dihasilkan oleh lumba-lumba bisa direkam, dan ditiru pola gelombangnya untuk diproduksi secara digital. Dan CD ini adalah hasil karya digita yang "meniru" pola gelombang suara lumba-lumba untuk penyembuhan.
Saya, sebagai pemilik tokoTOP.com, bukanlah seorang ahli dalam pengobatan anak autis. Saya bukan dokter atau psikolog. Namun saya tahu, CD Terapi Anak Autis sudah membantu banyak orang. Puluhan orang tua yang sudah membeli CD ini mengabarkan perkembangan motorik dan kognitif anak autis mereka lebih cepat dan lebih baik dibanding sebelum menggunakan CD Terapi Anak Autis ini.
Saya tidak menjamin CD Terapi Anak Autis yang harganya sangat terjangkau ini bisa membuat anak autis sembuh/normal 100%, tapi mendengar penuturan para pembeli CD Terapi Anak Autis ini, saya sangat yakin bahwa CD ini akan sangat membantu kemajuan anak autis. Oya... perlu anda ingat, CD Terapi Anak Autis bukanlah pengobatan utama, melainkan hanya sebagai terapi pelengkap untuk anak autis. Tetaplah berkunjung ke dokter atau ahli lainnya untuk memeriksakan anak anda tercinta.
Banyak anak autis yang tidak mendapat kesempatan menikmati terapi lumba-lumba. Mungkin karena masalah biaya atau memang karena di kota tempat anda tinggal tidak ada tempat terapi lumba-lumba. Namun dengan CD Audio Branwave Terapi Anak Autis yang meniru pola gelombang lumba-lumba, masalah biaya dan kelangkaan terapi lumba-lumba sudah bisa diatasi.
CARA MENGGUNAKANNYA sangat mudah..! Anda putar saja CD Terapi Anak Autis ini di ruangan atau tempat bermain anak anda. Boleh juga diputar di kamar tidur, saat anak anda sedang tidur. Anda tida perlu memaksa anak Anda untuk konsentrasi mendengarkannya. Putar saja CD ini seperti memutar musik. Meskipun anak tidak mendengarkan, otak anak tetap merespon rangsangan gelombang suara frekuensi tertentu yang keluar dari speaker. CD ini bisa diputar dengan semua perangkat elektronik yang bisa memutar mp3. Gunakan speaker stereo untuk hasil tebaik. Sekedar informasi, sekarang di pasaran harga speaker active stereo sekitar 300ribuan. CD Audio Brainwave Terapi Anak Autis ini sangat aman digunakan oleh siapapun, semudah mendengarkan musik.
http://www.gelombangotak.com
16.23 | 0 Comments
Waspadai gejala autis
Sering timbul kekuatiran jika anak kita terlambat bicara atau bertingkah laku tidak lazim , apakah anak menderita autisme. Kata autisme saat ini sering kali diperbincangkan , angka kejadian di seluruh dunia terus meningkat. Banyak penyandang autisme terutama yang ringan masih tidak terdeteksi dan bahkan sering mendapatkan diagnosa yang salah , atau bahkan terjadi overdiagnosis . hal tersebut tentu saja sangat merugikan anak.
Apakah autisme itu ?
Kelainan perkembangan yang luas dan berat, dan mempengaruhi anak secara mendalam. Gangguan tersebut mencakup bidang interaksi sosial , komunikasi , dan perilaku.
Kapan deteksi dini autisme pada anak ?
Gejala autisme mulai tampak pada anak sebelum mencapai usia 3 tahun , secara umum gejala paling jelas terlihat antara umur 2 – 5 tahun.
Pada beberapa kasus aneh gejala terlihat pada masa sekolah.
Berdasarkan penelitian lebih banyak didapatkan pada anak laki-laki daripada anak perempuan. Beberapa tes untuk mendeteksi dini kecurigaan autisme hanya dapat dilakukan pada bayi berumur 18 bulan ke atas.
Waspadai gejala – gejala autisme
Gejala autisme berbeda – beda dalam kuantitas dan kualitas ,penyandang autisme infantil klasik mungkin memperlihatkan gejala dalam derajat yang berat , tetapi kelainan ringan hanya memperlihatkan sebagian gejala saja.
Kesulitan yang timbul, sebagian dari gejala tersebut dapat muncul pada anak normal, hanya dengan intensitas dan kualitas yang berbeda.
Gejala – gejala pada autisme mencakup ganggguan pada :
? 1. gangguan pada bidang komunikasi verbal dan non verbal
• Terlambat bicara atau tidak dapat berbicara
• Mengeluarkan kata – kata yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain yang sering disebut sebagai bahasa planet
• Tidak mengerti dan tidak menggunakan kata – kata dalam konteks yang sesuai
• Bicara tidak digunakan untuk komunikasi
• Meniru atau membeo , beberapa anak sangat pandai menirukan nyanyian , nada , maupun kata – katanya tanpa mengerti artinya
• Kadang bicara monoton seperti robot
• Mimik muka datar
• Seperti anak tuli, tetapi bila mendengar suara yang disukainya akan bereaksi dengan cepat
? 2. gangguan pada bidang interaksi sosial
• Menolak atau menghindar untuk bertatap muka
• anak mengalami ketulian
• Merasa tidak senang dan menolak bila dipeluk
• Tidak ada usaha untuk melakukan interaksi dengan orang
• Bila menginginkan sesuatu ia akan menarik tangan orang yang terdekat dan mengharapkan orang tersebut melakukan sesuatu untuknya.
• Bila didekati untuk bermain justru menjauh
• Tidak berbagi kesenangan dengan orang lain
• Kadang mereka masih mendekati orang lain untuk makan atau duduk di pangkuan sebentar, kemudian berdiri tanpa memperlihatkan mimik apapun
• Keengganan untuk berinteraksi lebih nyata pada anak sebaya dibandingkan terhadap orang tuanya
? 3. gangguan pada bidang perilaku dan bermain
• Seperti tidak mengerti cara bermain, bermain sangat monoton dan melakukan gerakan yang sama berulang – ulang sampai berjam – jam
• Bila sudah senang satu mainan tidak mau mainan yang lain dan cara bermainnya juga aneh
• Keterpakuan pada roda (dapat memegang roda mobil – mobilan terus menerus untuk waktu lama)atau sesuatu yang berputar
• Terdapat kelekatan dengan benda – benda tertentu, seperti sepotong tali, kartu, kertas, gambar yang terus dipegang dan dibawa kemana- mana
• Sering memperhatikan jari – jarinya sendiri, kipas angin yang berputar, air yang bergerak
• Perilaku ritualistik sering terjadi
• Anak dapat terlihat hiperaktif sekali, misal; tidak dapat diam, lari kesana sini, melompat – lompat, berputar – putar, memukul benda berulang – ulang
• Dapat juga anak terlalu diam
? 4.gangguan pada bidang perasaan dan emosi
• Tidak ada atau kurangnya rasa empati, misal melihat anak menangis tidak merasa kasihan, bahkan merasa terganggu, sehingga anak yang sedang menangis akan di datangi dan dipukulnya
• Tertawa – tawa sendiri , menangis atau marah – marah tanpa sebab yang nyata
• Sering mengamuk tidak terkendali ( temper tantrum) , terutama bila tidak mendapatkan apa yang diingginkan, bahkan dapat menjadi agresif dan dekstruktif
? 5. gangguan dalam persepsi sensoris
• Mencium – cium , menggigit, atau menjilat mainan atau benda apa saja
• Bila mendengar suara keras langsung menutup mata
• Tidak menyukai rabaan dan pelukan . bila digendong cenderung merosot untuk melepaskan diri dari pelukan
• Merasa tidak nyaman bila memakai pakaian dengan bahan tertentu
Apa yang sebaiknya anda lakukan?
Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter anda jika mencurigai adanya satu atau lebih gejala di atas pada anak anda. Tetapi jangan juga cepat – cepat mennyatakan anak anda sebagai penderita autisme.
Diagnosis akhir dan evaluasi keadaan anak sebaiknya ditangani oleh suatu tim dokter yang berpengalaman , terdiri dari ; dokter anak , ahli saraf anak, psikolog, ahli perkembangan anak, psikiater anak, ahli terapi wicara.
Tim tersebut bertanggung jawab dalam menegakan diagnosis dan memberi arahan mengenai kebutuhan unik dari masing – masing anak , termasuk bantuan interaksi sosial , bermain, perilaku dan komunikasi
16.09 | 1 Comments
Mengenali Pertanda Autis
- Anak tidak pernah menunjukan sesuatu di usia 1 tahun.
- Anak tidak pernah menggumam pada usia 1 tahun
a. Tidak bisa mengucapakan satu kata pada usia 16 bulan.
b. Tidak bisa mengucapkan 2 kata di umur 2 tahun.
c. Tidak suka berteman.
d. Tingkat konsentrasi amat pendek.
e. Tidak ada respon jika dipanggil namanya tampak seperti tuli
f. Tidak ada kontak mata.
g. Tidak peduli pada barang atau orang disekitarnya.
h. Kerap menyerang secara fisik tanpa alasan.
i. Terus menerus mengulangi gerakan yg aneh,misal : mengepakan tangan /mengacungkan tangan sama mengguncangkan sesuatu.
j. Kerap marah hebat atau antrum tanpa sebab jelas
k. Sangat peka terhadap suara bising, misal ; suara mesin cuci,blender dll
l. Ada yg selalu berjalan jinjit atau marah jika melihat cermin
15.20 | 0 Comments