Lumba-lumba,Terapi Alternatif Anak Autis
Oleh
Ruth Hesti Utami
Jakarta – Siapa yang tidak senang melihat lumba-lumba? Mamalia laut itu dikenal sebagai salah satu satwa paling ramah dan paling cerdas. Ternyata, lumba-lumba tidak hanya sekadar tontonan yang lucu. Gelombang sonar yang dikeluarkan lumba-lumba saat bersuara, juga berpengaruh positif bagi kesembuhan anak-anak penderita autis.
Di negara lain, terapi alternatif bagi anak autis menggunakan lumba-lumba sebenarnya sudah lama dimulai. Adalah David Nathanson yang mulai mengembangkan terapi itu di Ocean World, Fort Lauderdale, Florida, Amerika Serikat. Pada awalnya, ia hanya menangani anak yang mengalami down syndrome atau keterbelakangan mental. Anak-anak penderita down syndrome diketahui sulit untuk memberi perhatian pada suatu hal. David lalu menstimulasi panca indra anak-anak ini, dengan mengajak mereka berinteraksi dengan lumba-lumba. Mulanya, mereka tidak langsung berenang dengan lumba-lumba, tapi hanya bermain-main di sekitarnya.
Ternyata, anak-anak down syndrome itu bisa menerima stimulasi dan mulai bisa memberi perhatian. Cerita sukses terapi lumba-lumba mencapai puncaknya pada Maret 1998.
Ketika itu seorang bocah Inggris penderita bisu-tuli, Nikki Brice, berhasil mengucapkan kata pertamanya, yaitu ”in” sambil tangannya menunjuk ke arah kolam. Padahal, bocah malang itu sudah menderita bisu dan tuli sejak bayi.
Selama terapi, Nikki yang berusia delapan tahun bergaul dan berenang dengan lumba-lumba. Terapi itu berlangsung secara intensif selama tiga minggu (masing-masing pertemuan 40 menit). Sejak itu, terapi lumba-lumba terus dipraktikkan dan dikembangkan. Tidak hanya untuk anak autis tapi juga untuk orang dewasa yang mengalami gangguan mental dan sensor saraf indera. Karena padatnya daftar tunggu para pasien, sampai-sampai David harus memindahkan ”tempat praktiknya” ke Dolphin Plus di Key Largo, Florida.
Di Indonesia, tepatnya di Jakarta, terapi lumba-lumba mulai dilakukan di Gelanggang Samudera, Ancol, sejak Maret 2005. Mengacu pada hasil penelitian David, dalam terapi yang berlangsung 30-40 menit itu, anak didorong berinteraksi dengan lumba-lumba dan terapis yang mendampinginya.
“Lumba-lumba dikenal bisa mengeluarkan suara yang mengandung gelombang sonar, yang bisa mempengaruhi kognisi anak. Suara itu menimbulkan rileksasi, dan juga merangsang anak untuk mempercepat proses belajar,” ujar General Manager Dolphin Terapi Klinik, Endang Sumaryati ketika ditemui SH, Rabu (7/9).
Terapi itu diberikan secara bertahap. Sepekan hingga 10 hari pertama, anak biasanya hanya diminta bermain-main di sekitar kolam, untuk membiasakan diri dengan situasi sekitarnya. Pada mulanya, anak biasanya juga takut menyentuh lumba-lumba. Karena itu, biasanya ia hanya diminta menyaksikan berbagai atraksi yang dilakukan si lumba-lumba sampai ia merasa aman berdekatan dengan lumba-lumba itu, dan menyukainya. Setelah itu, barulah anak menjalani terapi di dalam air, didampingi seorang terapis dan pawang lumba-lumba.
Terapi di dalam air, terdiri dari latihan untuk berkomunikasi, menunjukkan empati, dan berkonsentrasi pada suatu aktifitas. Caranya, si terapis meminta anak melakukan suatu aktifitas, sampai si anak akhirnya bisa memenuhi perintah itu. “Ayo Ari, pegang lumba-lumbanya. Yang kencang, jangan dilepas ya. Tapi lumba-lumbanya jangan ditendang,” ujar Merry, salah seorang terapis pada Ari (6), anak yang sedang didampinginya, Rabu (7/9).
Mulanya, Ari tidak mau memenuhi perintah itu, karena perhatiannya terus teralih pada hal-hal lain. Tetapi setelah perintah yang sama diberikan berulang-ulang, Ari akhirnya bisa melakukannya dengan cukup baik. Selama beberapa saat ia berhasil memusatkan perhatian untuk memegang sirip dan punggung lumba-lumba hidung botol yang menemaninya, sebelum perhatiannya kemudian teralih pada hal baru. Latihan konsentrasi dan memenuhi perintah terapis seperti itu, menurut Endang, merupakan latihan yang sangat diperlukan anak autis.
Selama ini, anak autis seringkali mengalami kesulitan berkomunikasi dan memusatkan konsentrasinya pada suatu hal. Karena itu di dalam terapi, anak didorong untuk mendengar perintah terapisnya. Ha-silnya ternyata positif. Setelah mengikuti terapi selama kurang lebih tiga bulan, Ari menjadi lebih mudah berkomunikasi.
“Dulu dia kalau dipanggil nggak pernah bereaksi, diam saja. Terus aktif sekali, nggak bisa diam. Sekarang udah bisa komunikasi sedikit-sedikit, dan lebih tenang. Dia bahkan sudah bisa bersekolah di SD umum,” ujar pengasuh Ari. n
Posting Komentar